Recent Posts

Pesan Langit



Pesan Langit (Disaat semesta bicara)
W. Mustika
1.       “ Tuhan, dalam kegalauan hatiku menjalani kehidupan ini, kemana aku harus mencari tuntunan Mu?”
“Nak, heninglah sejenak, bebaskan pikiranmu dari tugas-tugasnya untuk memahami kehidupan yang tak kuasa dipahaminya. Biarkan ia istirahatdan hanya menjadi pendengar bahasa hatimu yang netral. Dengarkan pesa-pesannya yang bijak dan bebas dari penilaian.  Karena saat itulah Aku, sang jiwa dalam dirimu, sedang bicara padamu sebagai hati nurani.”

2.       “Baiklah Tuhan, ajarkan padaku bagaimana caranya agar aku bisa melupakan peristiwa saaat orang menyakiti perasaanku?”
“Nak, tepat saat batinmu disakiti seseorang, terimalah. Sebab saat itu pula hutang karmamu terbayar lunas. Rasa sakit yang pernah kau timbulkan pada hati orang itu di kehidupan sebelumnya, kini telah terbalas. Maka bersyukurlah hutang karmamu terhapus dan kau telah bebas dari dosa masa lalumu itu.”

3.       “Tuhan, saat kesabaranku sudah benar-benar habis menghadapi kata-katanya padaku, apa yang harus kulakukan?”
“Nak, selama kata-katanya tidak membunuhmu, biarkan saja. Karena dengan mendengarkan semua kata-katanya yang menyakitkan itu, kau sungguh sedang membantu-Ku menyembuhkan orang itu dari penderitaan yang dialami batinnya. Sebab hanya orang yang menderita yang akan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan.”

4.       “Tuhan, jika aku sendiri tidak membalas orang yang menyakiti perasaanku, siapa yang akan mengajari orang itu agar tidak lagi menyakiti orang?”
“Nak, jika orang menyakiti hatimu, justru dialah orang yang sedang mengajarimu bersabar. Biarlah orang lainnya yang akan mengajarinya menjadi lebih baik. Jika tak ada yang menyakitimu, siapakah nanti yang akan melatihmu kesabaran?”

5.       “Tuhan, jika Kau memang maha kuasa, kenapa tidak semua doa-doa kami berkenan Kau berkati?”
“Nak, yang menjadi doamu bagiKu, bukanlah sebatas kata yang kau panjatkan padaKu dalam sujudmu. Segala yang kaupikirkan, ucapkan dan menjadi perilaku keseharianmu, semua itulah doamu yang sadar atau tidak sadar telah kau panjatkan kepada semestaKu. Dengan hukum sebab akibat yang mengatur semesta ini, Aku mengatur apa yang layak atau tidak layak kau dapatkan dalam kehidupanmu. Hasil karma itulah menjadi berkah semestaKu bagimu. Inilah rahasia doa dalam hukum karma, hukum sebab akibat semesta ini, anakKu. Berhati-hatilah dengan karmamu.”

6.       “Tuhan, dimanakah tempat yang paling mudah bagiku untuk menemuiMu didunia ini agar aku bisa menunjukkan padaMu sujud baktiku?”
“Manu, Aku ada disetiap ruang dan waktu yang tak tebatas. Lihatlah ke segala arah, disana ada Aku. Lihatlah disetiap waktu, saat itulah ada Aku. Kau hanya perlu meyakini bahwa pada apapun yang sedang kau lihat, saat itu Aku sedang ada disana dalam wujud duniawiKu yang mudah kau lihat. Hanya saat kau mampu memperlakukan semua  yang kau lihat seperti sedang mempersembahkan sujud baktimu padaKu saat itulah kau telah berhasil melihat kesejatianKu dimana-mana.”

7.       “Tuhan, ajarkan aku bagaimana mengendalikan pikiran yang begitu liar ini? Karena dia sering kali malah menyakiti diriku sendiri.”
“Manu, jika kau tak kuat mengendalikan pikiran-pikiran yang merugikan hidupmu, ikuti saja kemana imajinasimu membawanya. Namun begitu jangan pernah sertakan rasa hati agar batinmu tidak ternodai olehnya. Jangan pula kau ikuti dengan kata-kata apalagi menjadi perilaku. Biarkan itu hanya menjadi pikiran yang lama-lama akan terhenti sendiri.”

8.       “Tuhan, ajarkan padku rahasia tentang dosa, agar aku bisa terhindar darinya dalam kehidupan ini.”
“Manu, dosa adalah segala hal dari pikiran, kata-kata dan perilaku yang membuatmu menyimpang dari sifat sejatimu sebagai jiwa yang penuh cinta kasih. Atau segala yang membuat perjalanan hidupmu dalam tubuh manusia ini menyimpang dari tujuan kelahiranmu, itulah dosa. Rasa bersalah atas penyimpangan itu akan kau rasakan sebagai hukuman pada batin. Inilah yang kau sebut sebagai hukuman atas dosa-dosa. Untuk menghindarinya, jadilah pribadi yang penuh cinta kasih.”

9.       “Nak, jika bagimu Aku adalah semesta, berhentilah membeda-bedakan Aku bahkan bertikai karena perbedaan yang kalian ciptakan itu. Telah Kubebaskan kalian memberiKu banyak nama, bentuk dan banyak jalan menujuKu. Itu karena Aku melingkupi segalanya dan ada dimana-mana. Akulah semesta yang abadi dalam keesaanKu, betapapun kau coba memisah-misahkannya. Justru hidupmu adalah untuk melihat keesaanKu dalam keberagaman di dunia ini. Pahami ini wahai anak-anak semestaKu, agar kau bisa melihat kesejatian diriKu.”

10.   “Tuhan, dengan kelimpahan dosa dan ketidaksempurnaanku seperti ini, bagaimana mungkin aku bisa mendekat untuk  ada bersamaMu saat ini dalam kehidupan, apalagi kelak dalam kematianku.”
“Manu, Aku ada tidak sejauh yang pernah kau bayangkan. Kau hanya perlu belajar melihatKu dimana-mana dengan cara itu kau akan sadar betapa Aku begitu dekat dalam kehidupan dan kematianmu.”

11.   “Manu, sejak saat dirimu sebagai jiwa memutuskan untuk lahir kembali ke dunia dalam tubuhmu kali ini, telah kau tetapkan niat untuk memperbaiki kesadaranmu agar makin luas lewat pengalaman manis dan pahit dalam kehidupanmu. Maka kini Ku ingatkan kembali padamu, bahwa setiap pengalaman hidup yang pahit dan menyakitkan batinmu saat ini, sesungguhnya adalah pengalaman yang telah kau pilih dahulu sebelum lahir, untuk proses pematangan kesadaran jiwamu. Berhentilah mengeluh, karena sebenarnya kau hanya mengeluhkan pengalaman yang telah kau pilih sendiri. Jalani dengan ikhlas, karena jiwamu telah tahu bahwa pengalaman pahit itu adalah berkah bagimu.”

12.   “Tuhan, jika aku berhenti atau tidak lagi percaya pada hukum karma, apakah aku tetap terikat pada hukum itu?”
“Nak, hukum karma bukanlah untuk dipercaya atau tidak dipercaya. Ia hanya perlu diketahui ada sebagai suatu keniscayaan yang mengatur semesta ini. Kau boleh percaya atau tidak percaya bahwa jika menyentuh api tubuhmu akan terbakar, menyentuh air kau akan basah, merasakan manis jika mencicipi gula, merasakan pedas saat memakan cabai. Tapi semua itu akan tetap terjadi sebagai mana mestinya, entah kau masih percaya atau tidak pada hukum karmanya. Maka hati-hatilah memilih karmamu sendiri, karena dengan itulah kau dapatkan pahalamu.”

13.   “Tuhan, kenapa cinta dan kasih sayang akan memudahkan kita dekat dengan apa yang kita harapkan dan kebencian akan menjauhkan kita dari bahagia yang kita harapkan?”
“Nak, di semesta yang Kuciptakan ini berlaku hukum panas dan dingin. Panas akan memisahkan materi-materi yang ada dan dingin akan membuatnya mendekat untuk menyatu. Kebencian adalah panas dan cinta serta kasih sayang adalah kesejukan rasa. Dengan hukum sebab akibat ini, maka jika kau memilih memiliki hati yang sejuk penuh cinta kasih, akan semakin banyak pribadi-pribadi yang mendekatimu. Jika kau pilih suasana hati yang panas, maka tentulah akan semakin banyak yang menjauhimu.”

14.   “Nak, seluruh rahasia semesta raya ini telah Aku jejalkan kedalam wujud semesta kecil, yakni dirimu. Proses penciptaan, kelahiran dan kehidupanmu adalah proses penciptaan semesta raya ini. Pahami sedalam mungkin segala hal tentang tubuhmu, maka akan kau pahami materi semesta ini. Kenali segala hal tentang kecerdasan pikiranmu, akan kau pahami kecerdasan semesta ini. Dan kenali sang jiwa, diri sejatimu dalam tubuh yang kini kau tempati, maka kau akan memahami posisiKu bagi semesta rayaini. Inilah tujuan setiapkelahiran yang pernah kau lewati anakKu, yakni untuk memahami kesemestaan rayamu lewat pemahaman akan dirimu dalam semesta kecilmu. Menyatulah dengan jiwamu, maka kau akan memahami rasanya menyatu denganKu.”

15.   “Tuhan, apa pesanMu yang mesti kusimak pada malam Nyepi yang gelap ini?”
“Nak, hanya pada malam yang benar-benar gelap, setitik cahaya akan mudah kau temui dan kau syukuri. Begitulah dalam gelapnya penderitaan hidup yang kau alami, hanya dengan itu kau akan mudah mensyukuri berkah-berkahKu sekalipun hanya setitik kecil cahaya kehadiranKu. Maka lihatlah kehadiranKu dalam tiap penderitaan hidupmu.”

16.   “Tuhan, begitu banyak cobaan dan ujian mesti kujalani dan kulewati dalam kehidupan ini. Sampai kapan Kau akan memenuhi hidupku dengan cobaan dan ujian ini?”
“Nak, semua ujian serta cobaan bagi batin dan mentalmu itu akan terhenti, tepat saat kau berhasil menghentikan keluhan-keluhanmu atas kesulitan hidup yang kau alami itu. Selama kau masih mengeluh, selama itu hidupmu akan kau rasakan dipenuhi ujian dan cobaan.”

17.   “Nak, sebagai ayah-ibu semestamu, hari ini akan Aku bukakan rahasia kenapa selama ini aku tidak selalu dengan cepat membangunkanmu setiap kali kau terjatuh dalam penderitaan dan duka duniawi. Itu tak lain karena Aku sesungguhnya hanya ingin melihatmu mau bertumbuh kian tegar dan bangkit dengan caramu sendiri. Kau mesti belajar bertumbuh matang demi tujuan kelahiranmu sendiri. Sebab kelak dalam kesadaran semestanya, jiwamu sendiri akan bersamaKu menjadi ayah-ibu bagi semesta raya ini.”

18.   “Tuhan, dihari yang cerah dan istimewa ini, bolehkah aku melihat wujudMu agar mudah kurasakan dan kuyakini kehadiran cinta kasihMu?”
“Nak, jika bagimu Aku adalah sumber cinta kasih, maka lihatlah hari ini Aku hadir dalam wujud orang-orang yang memberimu cinta kasih. Ayah, ibu, saudara, sahabat atau bahkan musuh yang mengasihimu, itulah wujud-wujudKu. Juga matahari yang bersinar dan menghangatkan harimu, atau air, angin dan bumi yang menyediakan  zat hidup bagimu hari ini, itulah wujudKu saat memberimu kehidupan saat ini, karena Aku ada didalamnya.”

19.   “Tuhan, hidup ini terasa begitu sulit untuk kulalui, bahkan rasanya aku ingin mati saja demi terbebas dari beban hidupku. Apa yang mesti aku lakukan?”
“Nak, mengapa kau meremehkan begitu saja dirimu. Jiwamu bagian dari diriKu. Tubuhmu tercipta dari materi semesta raya ini. Dan kau sendiri tercipta dari kesempurnaan kreasiKu. Meremehkan dirimu sendiri, sama saja dengan meremehkan hasil ciptaKu. Bangkitlah. Temukan bekal kecerdasan yang sudah kau miliki dalam dirimu, untuk bisa hidup didunia ini. Dan berhentilah berpikir bahwa kematian akan membebaskanmu dari beban batin. Selama kehidupan ini menjadi beban bagimu, kematianpun akan menyisakan beban bagi jiwamu.”

20.   “Tuhan, kenapa semesta kerap memberi  berkah yang berbarengan atau kadang duka yang beruntun datang ?”
“Nak seperti mentari yang memberi berkah hujan dan kemarau dalam rentangan musim, begitulah semesta kerap menghadirkan “musim-musim” berkah atau duka dalam hidupmu. Namun sungguh, antara berkah dan duka selalu berdampingan. Dalam berkah hujan yang berlimpah untuk mengatasi kemarau panjang, ada banjir, tanah longsor, atau bencana lain dibaliknya. Dalam kemarau panjang  yang keringpun ada banyak berkah yang kau dapatkan. Hanya saat kau dapat menyikapi kedua siklus itu dengan bijak dan cerdas, maka sepanjang waktu akan menjadi musim berkah bagimu.”

21.   “Tuhan, bagaimana caranya untuk bisa selalu bahagia di kehidupan ini?”
“Nak, setiap ruang dan waktu dalam hidupmu ini dipenuhi oleh bagian yang bahagia dan tidak bahagia. Pikirkanlah bagian yang pernah membahagiakanmu di masa lalu, yang sedang membahagiakanmu di masa kini dan yang akan membahagiakanmu di masa depan, maka seluruh hidupmu akan dipenuhi kebahagiaan. Kau hanya perlu berlatih melihat bagian-bagian  dari kebahagiaanmu.”

22.   “Tuhan, aku menyerah menghadapi penderitaan hidup ini. Bebaskanlah aku dari semua duka ini.”
“Nak, untuk setiap penderitaan yang kau alami di kedhidupan kali ini, kau memiliki dua pilihan; menjalaninya dengan ikhlas dan berusaha tegar lalu bangkit setelah semua itu berlalu, atau kau bisa menyerah dan meninggalkan kehidupanmu kali ini. Namun begitu, untuk setiap penderitaan yang tak berhasil kau pahami rasa dan tujuan kehadirannya dalam hidupmu, kau akan mengalaminya lagi dalam kehidupan-kehidupanmu berikutnya hingga kau mampu memahami dan melewatinya sebagai pembelajaran demi pembebasan jiwa.”

23.   “Tuhan, untuk apa sesungguhnya kau pertemukan aku dengan orang-orang yang sifat dan sikap pribandinya begitu sulit kupahami?”
“Nak, setiap orang yang Kuhadirkan dalam hidupmu adalah cermin bagimu untuk menilai tingkat kematangan Jiwamu dalam kehidupan kali ini. Untuk setiap orang yang sifatnya belum bisa kau pahami, sebenarnya ia sedang menunjukkan bahwa ada bagian dari sifat-sifatmu sendiri yang belum kau pahami. Hanya saat kau benar-benar memahami dirimu sendiri, kau akan mudah memahami sifat orang lain sesulit apapun. Itulah tanda kematangan Jiwamu.”

24.   “Tuhan, ajarkan aku cara termudah untuk memperbaiki sifat-sifat buruk orang agar mereka menjadi bersifat baik.”
“Nak, mulailah dengan tidak menilai bahwa sifat orang tersebut buruk. Karena menilai buruk orang lain adalah juga sifat yang buruk. Lalu lakukanlah perubahan sifatmu sendiri dengan lebih dulu menjadi pribadi yang baik bagi kehidupan ini dan biarkan orang lain meneladaninya, jika mereka merasa itu bermanfaat bagi mereka. Hidup bukan semata-mata untuk memperbaiki orang lain, tapi lebih utama demi membenahi dirimu sendiri. Karena itulah tujuan kelahiranmu.”

25.   “Tuhan, betapa sulitnya mencegah dan menghilangkan kemarahan. Ajarkan aku caranya.”
“Nak, kemarahan dimulai saat pikiranmu menilai bahwa sesuatu itu tak pantas terjadi dalam kehidupanmu, karena kau terlanjur megharapkan sesuatu yang berbeda dari semua kenyataan itu. Maka belajarlah melihat bahwa sesuatu yang tidak kau inginkan itu adalah sesuatu yang sesungguhnya pantas kau alami, sebagai bagian dari putaran hukum karma yang mesti kau lalui. Saat kau pahami rahasia karma dalam kehidupanmu, kau akan mudah mengendalikan amarah. Sebab kau telah melihat kepantasan dari apa yang kau alami, tak lain akibat dari karmamu sendiri di hidup terdahulu.”

26.   “Tuhan, ajarkan padaku cara untuk membebaskan diri dari hutang karma di kehidupan lampauku.”
“Nak, setiap peristiwa dalam hidupmu adalah putaran karma. Maka jika ada yang berbuat buruk terhadapmu, belajarlah untuk tidak membalas. Jangan pula kau menunggu kata maaf darinya, bahkan kaulah yang mesti meminta maaf dalam batinmu. Sebab sangat mungkin pada kehidupan terdahulu kau pernah berbuat buruk padanya, untuk kini kau terima hasilnya. Dan jika kau berbuat baik kepada orang , jangan menunggu kata terima kasih darinya, tapi berterima kasihlah karena kau diijinkan membayar hutang-hutang karmamu. Dengan cara inilah pelan-pelan hutang karma baik dan burukmu akan terkikis di kehidupan ini.”

27.   “Tuhan, aku ingin melakukan pekerjaan yang mulia di bumi ini. Pekerjaan apa yang mesti aku lakukan?”
“Nak, setiap pekerjaan yang dilakukan sebagai persembahan kepada semestaKU dengan penuh cinta kasih, itulah pekerjaan mulia. Dan karena Jiwamu adalah diriKU yang ada dalam tubuhmu, maka lakukanlah pekerjaan tubuh dan pikiranmu di dunia ini sebagai bentukpersembahan bagi Jiwamu yang ingin mengabdikan hidupNya di semesta ini dengan penuh cinta kasih. Itulah pekerjaan mulia karena dikerjakan dengan hati dan Jiwa yang mulia.”

28.   “Tuhan, jika semesta ini Engkau yang menciptakannya, lalu siapakah yang yang pernah menciptakanMu sebelum semesta ini ada?”
“Nak, pelajari dan kenalilah dirimu dengan seksama, maka seluruh jawaban dari pertanyaanmu atas penciptaan semesta dan penciptaan diriKu akan kau temukan disana. Dan hanya bagi kalian yang sudah siap untuk mengetahuinya, seluruh rahasia semestaKu akan Kuungkap lewat kata-kata dari dalam dirimu.”

29.   “Tuhan, dalam terang cahaya purnama yang begitu indah malam ini, bukakanlah bagiku pelajarannya.”
“Nak, sebagaimana keindahan bulan purnama bisa kau lihat hanya dalam langit yang terang dan keikhlasan bulan memantulkan cahaya matahari ke bumi, begitulah pribadimu akan bercahaya terang dan indah di bumi ini jika langit pemahamanmu telah terang tanpa terhalang oleh mendung keraguan akan kesejatianmu. Dan pula itu akan tercapai jika kau bisa ikhlas dan tekun memantulkan cahaya cinta kasihKu menjadi prilaku keseharian dalam hidup yang kau jalani di bumi ini.”

30.   “Tuhan, bahasa apakah yang terbaik kugunakan dalam memanjatkan doa padaMu agar doaku bisa menyentuhMu? Karena aku bahkan tidak memahami makna dari doa-doaku selama ini.”
“Nak, aku memahami segala bahasa yang kau ucapkan dalam doa-doamu selama kau sendiri juga memahaminya. Maka berdoalah dengan bahasa yang benar-benar kau pahami dan yakini, agar kau yakin bahwa jiwamu sendiri memahami doamu itu. Doa adalah pesan pikiranmu kepada Jiwamu sendiri.”

31.   “Tuhan, bolehkah aku memujaMu dalam sebuah wujud yang kusukai? Tidakkah itu akan membatasi kemahabesaranMu?”
“Nak, bahkan samudra yang terbatas itu tak akan mudah kau arungi seluruhnya. Bagaimana kau akan mampu mengarungi ruang dan waktuKu yang tak terbatas? Maka dengan kekuatan tubuh dan kecerdasan pikiranmu yang terbatas itu, Kuijinkan kalian membatasiKu dengan wujud yang kalian suka dan keindahan kata-kata yang mapu kalian alirkan demi memahami siapa diriKu”

32.   “Tuhan, jika kami adalah anak-anak semesta yang Kau kasihi, untuk apa Kau berikan pada kami kebahagiaan sekaligus kesedihan di kehidupan dunia ini?”
“Nak, Kuhadirkan kebahagiaan duniawi agar kau betah menjalani peranmu di kehidupan ini. Dan kuhadirkan kesedihan dalam hidupmu agar kau tidak terjebak untuk melekat pada kebahagiaan duniawi yang tidak kekal itu. Hanya saat kau terbebas dari kemelekatan duniawi, maka kesedihan akan terhenti dalam hidupmu. Itulah saat kebahagiaan duniawi dan rohani menghiasi batinmu sepanjang waktu.”

33.   “Tuhan, dengan cara apakah Kau menilai keteguhan kami memuja KebesaranMu, meghormati kehadiranMu, atau mencintai keagunganMu?”
“Nak, jika kau memuja kebesaranKu sambil meremehkan dirimu sendiri atau orang lain, dimana Aku sendiri ada sebagai Jiwa mereka, kau belumlah memujaKu. Jika kau mencintaiKu sambil membenci orang dan mahluk lainnya, kau sesungguhnya sedang membenciKu dalam kehidupanmu. Dan jika kau mencela orang lain bagaimana kau bisa menghormatiKu dalam diri mereka? Maka Aku menilai caramu memujaKu menghormati dan mencintaiKu, lewat caramu memperlakukan orang dan mahluk lain di kehidupanmu.”

34.   “Tuhan, bila Jiwaku adalah percikan kecilMu, mungkinkah aku punya kemampuan sepertiMu? Punya kemahakuasaan hingga segala keinginanku di dunia ini tercapai?”
“Nak, jika pikiran sadarmu sepenuhnya berkuasa atas hidupmu, tentu tak mudah bagimu meraih kemahakuasaanKu. Jika kau telah ada diantara kecerdasan pikiran sadar dan ketakterbatasan Jiwamu, maka sebagian keinginan dalam doa-doamu akan tercapai sebagian lainnya tidak. Hanya saat mana pikiran sadarmu yang terbatas bisa memasuki kemampuan Jiwamu yang tak terbatas, maka saat itulah kau memiliki segala kemahakuasaan Jiwamu. Dan hidup ini adalah untuk proses kau memahami kekuasaanmu sebagai Jiwa.”

35.   “Tuhan, kau adalah pencipta dan penguasa semesta. Segala yang Kau kehendaki akan terjadi. Tapi kenapa tidak Kau jadikan agar semua manusia yang ada  di kehidupan ini memiliki Jiwa yang matang dan sifat pribadi yang dewasa agar kedamaian dunia bisa tercapai?”
“Nak, jika seluruh benih biji yang ada di semesta ini Kujadikan buah, kapankah benih biji itu ada dan bertumbuh jadi buah? Jika setiap anak Kujadikan orang tua, kapankah akan ada anak-anak di bumi ini? Bahkan jika semua pertanyaan telah Kujadikan jawaban, kapankah kau akan menanyakan hal ini lagi?”

36.   “Tuhan, kenapa Kau turunkan ajaran agama dan spiritual demi kedamaian, namun justru berbalik menyebabkan hilangnya kedamaian hati pada sebagian manusia?”
“Nak, Kuciptakan matahari untuk membuatmu memahami rasa terang dan hangat cinta kasih semesta. Juga untuk membantunya mengeringkan apa yang basah. Tapi jangan lupa panas matahari bisa membakar tubuh dan emosimu. Maka bersikap dewasalah saat ada dibawah cahaya matahariKu. Dengan cara yang sama , kau akan mengerti bagaimana cara indah untuk menyelam dalam sisi dualitas dari segala ciptaanKu termasuk agama dan spiritualitas.”

37.   “Tuhan, bolehkah jika aku berdoa agar Kau berkenan memenuhi hidupku dengn kekayaan dan kenikmatan duniawi? Tidakkah itu salah atau terlalu berlebihan?”
“Nak, tak ada permintaan yang berlebihan bagi kekayaan semesta yang Kumiliki. Mintalah. Tapi sadarilah bahwa Aku akan memenuhi doamu itu lewat peran-peran kehidupan yang Kujalani sebagai Jiwa manusia dan mahluk hidup lain yang ada bersamamu di dunia ini. Kasihilah mereka semua. Jika kau tidak ikhlas mengasihi mereka, bagaimana mereka bekerja penuh kasih untuk memenuhi doa-doamu. Sebab sesungguhnyalah, semua mahluk didunia ini sedang bekerja penuh kasih untuk saling memenuhi doa diantara mereka.”


No comments: